Krisis Energi?

Energi sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Seiring dengan meningkatnya pembangunan terutama di sektor industri, pertumbuhan ekonomi dan penduduk, kebutuhan akan energi terus meningkat. Energi dari minyak bumi, gas dan batubara masih menjadi sumber energi terbesar yang dimanfaatkan di Indonesia yaitu sekitar 88 % dari keseluruhan konsumsi energi nasional. Sayangnya sumber energi tersebut merupakan sumber daya alam tidak terbarukan yang akan habis pada masa depan.

Alam Indonesia menjanjikan potensi energi yang luar biasa besarnya. Renewable energy  merupakan salah satu pilihan untuk mengatasi ancaman krisis energi pada masa depan. Namun sayangnya pemanfaatan renewable energy di Indonesia belum optimal. Potensi panas bumi di Indonesia merupakan yang terbesar di dunia. Indonesia menyimpan 40% cadangan panas bumi dunia yang setara dengan 27 GW tetapi baru dimanfaatkan sebesar 800 MW. Pemanfaatan tenaga surya yang masih kecil padahal Indonesia yang secara geografis berada di daerah khatulistiwa memiliki potensi tenaga surya yang besar. Pemanfaatan air sebagai pembangkit listrik pun masih rendah padahal berbagai macam potensi air seperti danau, sungai, laut maupun air terjun melimpah ruah di Indonesia. Sebagai negara tropis hampir keseluruhan jenis tanaman penghasil minyak nabati dapat tumbuh dengan cepat di Indonesia. Pemanfaatan biofuel masih rendah yaitu sekitar 2% dibandingkan dengan minyak bumi sebesar 63% dari konsumsi energi nasional.

Di masa depan renewable energy seharusnya memiliki peranan penting untuk mememuhi kebutuhan energi nasional. Pemanfaatan geothermal energi sebagai sumber energi pembangkit listrik yang ramah lingkungan harus lebih dioptimalkan. Hydropower yang merupakan energi yang sangat potensial di Indonesia dapat dimanfaatkan dengan banyak cara baik sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), mini/mikro hydro, tidal energi, maupun pump storage power plant tergantung kondisi geografis. Pemanfaatan mini/mikro hydro dapat berperan sangat besar untuk membangun energi di daerah terpencil yang memiliki potensi sungai yang baik. Tenaga surya dapat sangat berperan untuk membangun desa mandiri energi dengan teknologi sel surya. Pembangkit listrik tenaga surya memiliki kelebihan seperti sumber yang selalu ada, ramah lingkungan, dll. Sebagai negara tropis, Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Minyak nabati menjadi sebuah potensi untuk mengatasi menipisnya cadangan minyak di Indonesia. Minyak nabati merupakan sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan. Minyak nabati dapat diimplementasikan menjadi biodiesel ataupun bioetanol yang dapat menggantikan peranan bahan bakar fosil.

Minyak bumi, gas dan batubara masih mendominasi kancah energi nasional. Ketergantungan terhadap nonrenewable energy harus diminimalisir. Dibutuhkan proses secara perlahan untuk mengatasi ketergantungan terhadap sumber daya alam yang kian menipis tersebut. Untuk itu harus dilakukan optimalisasi pemanfaatan renewable energy dalam berbagai sektor secara bertahap. Mixing energy antara energi fosil dan renewable energy dapat dilakukan mengingat keanekaragaman potensi energi yang ada di Indonesia. Infrastruktur energi pun harus memadai mengingat ketidaksesuaian antara persebaran sumber energi dan konsumen di Indonesia. Untuk merealisasikan hal tersebut dibutuhkan fokus bersama mulai dari regulasi yang mendukung, riset dan teknologi, investasi, maupun kultur dari masyarakat.

Optimalisasi pemanfaatan renewable energy dan bahan bakar fosil saja untuk mengatasi ancaman krisis energi tidaklah cukup. Seiring berjalannya waktu kebutuhan energi semakin besar. Konsumsi energi yang terus meningkat dapat diredam dengan penggunaan energi secara hemat dan bijak baik dalam skala industri maupun kultur sehari-hari. Implementasi renewable energi dan penggunaan energi secara bijak merupakan langkah terbaik bagi penyediaan energi yang berkelanjutan.

About these ads

4 thoughts on “Krisis Energi?

  1. pam, energi primer itu bakal muter2 di bahan bakar fosil. Klo bahan bakar nabati,solarcell itu skalanya kecil banget. Yg gelombang laut pasang surut juga ga banyak2. Klo mau bicara makro, larilah ke nuklir atau geothermal.

    Minyak bumi mulai kurangin ke transport aja yang tentunya dengan pengembangan riset mobil elektrik/hybrid, biar sumber energinya dari listrik (sumber listriknya ya dari yang non emisi karbon). Batu bara masih melimpah, manfaatin dulu juga gapapa walau jangan banyak2. Klo gas emang agak abstrak.

    Nuklir itu masalah ketakutan kebijakan.
    Geothermal itu masalah mahalnya investasi (pemerintah ga mau rugi2 banyak, bisanya ngelempar tender terus).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s