PT. Dirgantara Indonesia : Flying with A Broken Wing
March 29th, 2011 § 9 Comments
Maret 2011. Sebuah kompleks dengan lapangan yang sangat luas terhampar didepan mataku. Tampak sekerumunan orang berada didekat pesawat terbang yang berada di depan hanggar. Kuacuhkan begitu saja. Kutarik gas sepeda motorku menuju portal dimana bangunan-bangunan yang kokoh berdiri diatasnya. Satpam menghentikan langkahku.
“Selamat siang, Pak. Anda mau kemana? ”, tanyanya dengan sopan tapi tegas
“Siang, saya mau menuju gedung diklat PT. Dirgantara Indonesia”,jawabku.
“Ini Pak kartu parkirnya. Silakan parkir sepeda motornya didalam lalu lapor terlebih dahulu di resepsionis”.
Kuparkirkan sepeda motorku dihamparan sepeda motor karyawan PT. DI lainnya. Aku pun berjalan menuju resepsionis. Sebuah bangunan dengan kaca tarnsparan berada didepanku. Sebuah replika yang menarik mata, pesawat dengan kode N250 di sayap bagian belakangnya berada di ruang resepsionis. Setelah mendapatkan kartu identitas bertuliskan “Visitor” aku memasuki area PT. Dirgantara Indonesia. Tampak bangunan-bangunan yang lumayan megah berada di samping kiri dan kananku. Catnya mulai nampak luntur sehingga bangunan-bangunan yang ada seakan-akan berwarna abu-abu. Sepi. Aku hanya melihat sedikit orang yang ada dijalanan.
Aku memasuki bangunan sepi lumayan tua dengan sarang laba-laba di pojok-pojok ruangan. Kulangkahkan kakiku menuju lantai 2. Tampak sebuah hall seperti hanggar atau bengkel berada dibalik dinding kaca dikananku. Sebuah pesawat rusak terhampar diatasnya. Sepi. Aku tidak melihat orang-orang disana. Disebelah kiriku nampak deretan meja lengkap dengan kursinya kosong tanpa penghuni. Dari sekitar 10 meja yang ada hanya sekitar 3 meja ditempati pria berkemeja rapi. Tak terasa perjalananku terhenti. Aku pun bertemu dengan Ibu Ila bagian Diklat.
“Dik, mulai 21 Maret 2011 sampai dengan 21 Mei 2011 Anda dapat melaksanakan kerja praktek disini. Silakan dikordinasikan lagi dengan manager yang ada di Flight System.”, katanya dengan ramah seraya tersenyum.
Itulah pengalaman pertamaku memasuki area PT. Dirgantara Indonesia. Kesan pertama yang membuatku penasaran dan ingin tahu lebih dalam mengenai PT. Dirgantara Indonesia (PT. DI) yang dulu bernama IPTN. Jujur aku adalah salah satu pengagum Bapak B.J. Habibie. Beliau merupakan sosok yang visioner dan nasionalis serta berintegritas dimataku. Beliau membuatku terkagum ketika berani membawa Indonesia melompat dari zaman agraris bersaing dalam industri teknologi tinggi, bukan main-main : pesawat terbang.
PT. Dirgantara Indonesia merupakan industri pesawat terbang yang pertama dan satu-satunya di Indonesia dan di wilayah Asia Tenggara. Perusahaan ini dimiliki oleh Pemerintah Indonesia. DI didirikan pada 26 April 1976 dengan nama PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio dan BJ Habibie sebagai Presiden Direktur. Industri Pesawat Terbang Nurtanio kemudian berganti nama menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) pada 11 Oktober 1985. Industri pesawat terbang di Indonesia memiliki sejarah perjalanan yang berliku. PT Dirgantara Indonesia (PT DI) memang tidak bisa dibandingkan dengan ketika perusahaan itu masih bernama Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) dan Habibie masih menjabat presiden direktur. Saat itu IPTN memiliki 16 ribu karyawan. Kompleks gedung IPTN di kawasan Jalan Pajajaran, Bandung, berdiri megah, menempati lahan seluas 83 hektar.
Beberapa pesawat terbang karya IPTN seperti CN-235 dan N-250 sempat beraksi dalam pagelaran paling besar di International Airshow Paris. IPTN sempat akan meluncurkan pesawat jet transonic N-2130, sebuah pesawat full jet long range dengan mesin ganda yang sangat high tech yang dilengkapi dengan Head Up Display .Yang paling laris adalah pesawat CN-235. Pesawat berkapasitas 35 sampai 40 orang itu paling banyak diorder dari dalam negeri maupun luar negeri. Selain itu, ada pesawat C-212 (kapasitas 19-24 orang). Produk chopper alias helikopter juga tak mau kalah. Ada NBO-105, NAS-332 Super Puma, NBell-412, dan sebagainya. Semua produk burung besi tersebut begitu membanggakan bangsa saat itu.
pesawat N250 Gatotkaca Karya IPTN
“Indonesia membuat pesawat terbang? Bisa terbang tuh emang? Memang kita mampu? Alangkah menyedihkannya sebuah negara yang diremehkan bangsanya sendiri”
-dialog hati, 23 Maret 2011-
Namun, persoalan muncul saat krisis ekonomi menggebuk Indonesia pada 1998. Ketika itu, PT DI yang bernama Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) mendapat order membuat pesawat N-250 dari luar negeri. Pesawat terbang ini berkapasitas 50 hingga 64 orang. Sebuah kapasitas ideal untuk penerbangan komersial domestik. Umumnya pesawat domestik di tanah air saat ini menggunakan pesawat dari kelas yang tak jauh berbeda dari N-250. PT DI menerima pesanan 120 pesawat. Ongkos proyek yang disepakati USD 1,2 milliar. PT DI langsung tancap gas. Ribuan karyawan direkrut. Mesin-mesin pembuat komponen didatangkan. Namun, PT DI harus menelan pil pahit. Krisis moneter melanda Indonesia pada tahun 1997. Indonesia berhutang pada IMF. Pemulihan krisis ekonomi bersama International Monetary Fund (IMF) mengharuskan Indonesia menerima sejumlah kesepakatan. Salah satunya, Indonesia tak boleh lagi berdagang pesawat.
Akhirnya pada tahun 2000 setelah mengalami restrukturisasi IPTN berubah nama menjadi PT. DIrgantara Indonesia. Untuk bisa bertahan pada 2003, PT DI memutus kerja sembilan ribu lebih karyawan. Jumlah itu terus bertambah. Dari 16 ribu pekerja, PT DI hanya menyisakan tiga ribu pekerja. Baik di bagian produksi maupun manajemen. Kondisi itu semakin membuat PT DI terpuruk. Apalagi, tak ada lagi order pesawat yang datang. Roda perusahaan pun tak berjalan. Namun, PT DI berupaya mempertahankan diri. Semua pasar yang bisa menghasilkan duit disasar. Mulai pembuatan komponen pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan sejenisnya. Salah satunya membuat alat pencetak panci.
“Sungguh menyedihkannya nasib engineer di Indonesia. Sama sekali tidak dihargai! Bersiap-siaplah menjadi miskin, Dik! Hanya orang yang tidak waras yang mau menjadi karyawan PT.DI”
“Hmm.. sungguh membanggakan Dik, bahwa N250 pernah terbang ke Prancis dan mendarat dengan baik. Namun sayang N250 sekarang….”
- Dialog Senja, 23 Maret 2011 -
” Kita pernah mengembangkan sendiri pesawat terbang CN-235 dan N-250 untuk membuktikan bahwa SDM Indonesia mampu menguasai dan mengembangkan teknologi secanggih apa pun. Dimana itu semua sekarang?”
B.J. Habibie (12 Maret 2010)
“Kami rindu masa-masa dimana orang-orang membusungkan dadanya menyaksikan raja udara tampil mempesona…”
“Kami rindu angkasa diwarnai deru merah putih yang menggema…”
“Semua belum berakhir. Dan pada akhirnya Sang Garuda besi akan kembali mengepakkan sayapnya mengarungi cakrawala. Suatu saat nanti…”
“Saat itu pun akan tiba ketika kita percaya dan dengan bangga mengatakan AKU INDONESIA “
Referensi :
http://sejarahsingkat.blogspot.com
http://wikipedia
http://www.detiknews.com/
http://aircraft-manufacture.blogspot.com/2010/12/pt-di-adakan-rekrutmen-besar-besaran.html





ckck gabut aje lo pam, haha, btw parah bgt jadi produsen panci gitu
ckckck cil..cil.. setidaknya gw nggak jalan2 keliling pabrik biar kliatan gak gabut.haha
pam beneran kape di sana gabut?
nggak gabut kok dep ;p
asik sih sampe detik ni.banyak dapat ilmu.. jaman2 dulu sih anak2 itb yang KP disini banyak yang cabutan, skrg sistemnya udah mulai diperketat hehe
Artikelnya cukup menarik…
Penggugah semangat yg layu…
Cuman ada bbrapa yg tolong dikoreksi n ditanyakan lagii sbg referensi…
“Mulai pembuatan komponen pesawat hingga industri rumah tangga seperti pembuatan sendok, garpu, dan sejenisnya”
Utk pencetak panci itu stahuq memang pernah dpet orderan darai Malaysia…..tapi untuk yg sendok, garpu sy belom pernah mendengarnya…
Semoga bangsa Indonesia menghargai dan mau mendukung usaha kita kedepan di bidang Teknologi…Demi kemjuan Bangsa ini.
Salam
Salaam,
artikelnya menariik
saya pun lagi mengerjakan skripsi dengan sampel di PT.DI “Flight Crew” .
alasan saya mengambil disini, salah satunya karna ini perusahaan yang sebenernya mampu membawa Indonesia ke arah yang lebih baik lagi, semoga PT. DI ini diberi kemampuan utk bertahan dan terus maju lebih dari prestasi yang dulu. hehehe Amiin
trimakasih sudah share artikel ini
selamat siang mas pambudi..
Perkenalkan mas, saya aji, kuliah di ITB jg.
Cerita yg menarik mas.
Oia, saya tertarik untuk apply KP jg di PT DI, tujuannya sih cari yang deket di bdg. Sekarang lg nunggu juga jawaban dr perusahaan yg lain.
Klo boleh tw, dulu persyaratan dan tujuan surat pengantar KP nya ke siapa ya mas?
Boleh di reply via email aja mas.
Makasih sbelumnya atas bantuannya mas pam..
pam, kata bapak aku bohong itu yang iptn sekarang bikin panci. sumbernya darimana sih?
anyway aku suka merinding kalo denger cerita iptn dan pak habibie, antara bangga sama sedih. pengen kerja di sana tapi godaan kerja di tempat laen juga ada, huahaha..
Jadi pengen kape di PT DI pam, kmu kape pas masa kuliah kan? mau ngisi semester 9, selain kul n TA sekalian magang di sini, bisa gak ya?