Pendidikan : Arti dan Problematikanya #part1

Pendidikan merupakan sebuah jawaban untuk menghancurkan belenggu kebodohan, mengembangkan manusia menjadi seorang yang luar biasa yang dapat memanfaatkan potensi negerinya untuk kemakmuran bangsa. Tidak salah jika kemajuan peradaban dari sebuah bangsa dapat dilihat dari kualitas pendidikannya. Setiap orang memiliki pandangan tersendiri tentang arti pendidikan. Ada yang mengatakan bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, mengembangkan segala potensi yang dimilikinya. Berdasarkan terminologi, pendidikan berasal dari kata “Pedagogi” yaitu kata “paid” artinya “anak” sedangkan “agogos” yang artinya membimbing “sehingga ” pedagogi” dapat di artikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak”.

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik.

Sedangkan pada UU 20 tahun 2003 Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Pendidikan nasional tersebut diimplementasikan dalam jalur pendidikan formal, nonformal dan informal. Jalur pendidikan formal sendiri merupakan jalur pendidikan yang acapkali diikuti oleh mayoritas rakyat indonesia yang meliputi pendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.

Kondisi Pendidikan di Indonesia Sekarang

Ironinya tujuan pendidikan nasional yang begitu agung dan komprehensif, ketika diimplementasikan menjadi tersempitkan hanya sebatas dalam hal akademis. Tak jarang semenjak kecil ketika kita menempuh Sekolah Dasar (SD) hingga sekarang selalu disuguhi dengan berbagai hal akademik saja meliputi kemampuan matematis, berbahasa, serta ilmu pengetahuan lainnya. Mata pelajaran agama dan Kewarganegaraan hanya menjadi formalitas saja belum mampu meningkatkan akhlak dan karakter bangsa. Kita semua tahu bahwa mencuri itu salah, kita semua pun tahu bahwa merupakan sebuah kewajiban bagi manusia untuk menjalankan perintah Tuhan. Namun segala wawasan yang kita miliki tidak akan pernah bertransformasi menjadi sebuah kesadaran tanpa metode yang tepat. Secara hakikatnya pembelajaran yang hanya didapat dari ruang kelas saja tidak mampu menjawab tantangan pendidikan. Intelektual dan kejeniusan tidak bisa  menjawab kekeringan spiritual dan moral. Proses pendidikan yang terjadi di ruangan kelas pun menjadi sebuah rutinitas yang menjenuhkan dimana peserta didik telah kehilangan makna dari hakekat pendidikan itu sendiri.

Kualitas pengajar pun masih dipertanyakan. Salah satu kunci utama dari pendidikan adalah pengajar yang biasa disebut ‘guru’ ataupun ‘dosen’. Sudah sewajarnya bahwa seorang guru harus memiliki standardisasi tertentu dalam keprofesiannya untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Berdasarkan data dari NUPTK September 2008  guru yang mengeyam pendidikan S1 atau lebih lebih tinggi sebesar 60%, sedangkan 40% guru lulusan dibawah S1. Tentu bukan hal yang lumrah 60% dari total guru di Indonesia berpendidikan dibawah S1.Hal yang ironi ketika keterbatasan ilmu pengetahuan yang dimiliki guru menyebabkan kurang optimalnya proses belajar mengajar. Pelajaran yang sebenarnya mudah bisa menjadi sulit. Matematika, fisika notabene pelajaran yang menjadi momok bagi pelajar seharusnya bisa diterangkan melalui metode yang tepat dengan guru yang berkualitas.

Kesejahteraan guru merupakan salah satu faktor yang berpengaruh dalam pendidikan. Sudah bukan zamannya lagi bahwa jargon ‘guru sebagai pahlawan tanpa tanda jasa’ harus terus dipertahankan. Entah apakah itu merupakan akal-akalan saja agar dapat menggaji guru secara murah. Namun sungguh miris ketika suatu tayangan di televisi menyiarkan bahwa ada seorang kepala sekolah yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai pemulung. Bukan kehendaknya berhadapan dengan kondisi seperti sekarang. Sesuap nasi demi keluarga menjadi motivasinya untuk terus bertahan. Bahkan beberapa  guru honorer di Gunung Kidul Yogyakarta hanya memiliki gaji Rp. 250.000- Rp. 350.000 per bulan. Sungguh miris karena gaji guru tersebut berada dibawah upah minimum regional. Bagaimana bisa guru mengajar secara maksimal ketika harus terus memikirkan cara untuk mendapatkan sesuap nasi.  Tidak dapat dipungkiri bahwa kualitas guru dalam mengajar berkaitan dengan kesejahteraan guru.

Salah satu hal yang berpengaruh pula dalam kualitas pendidikan adalah infrastruktur. Tidak dapat dipungkiri bahwa pembangunan di Indonesia masih belum merata. Pulau Jawa masih menjadi sentral pembangunan. Banyak kita temui fenomena bahwa Indonesia bagian timur seperti Kalimantan dan Papua belum memiliki infrastruktur pendidikan yang baik. Dari 2.630 bangunan SD yang tersebar di seluruh wilayah Papua, 50% lebih bangunan SD rusak parah dari 1204 sekolah dasar yang ada disana. Di wilayah ini hampir sebagian bangunan tidak permanen, melainkan menggunakan kayu dan beratap daun rumbia. Kondisi kayu-kayu di ruangan kelas itu sudah lapuk termakan usia. Pasalnya, sekolah itu dibangun sekitar tahun 1997. Berdasarkan data dari Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) dari 170.000 gedung SD di Indonesia, 60% di antaranya rusak parah. Bagaimana bisa siswa belajar dengan fokus ketika dibayang-bayangi dengan sekolah yang nyaris ambruk. Selain bangunan yang masih kurang baik secara kualitas dan kuantitas, alat-alat praktikum dan peraga pun masih minim. Hal ini menyebabkan proses transfer ilmu yang terjadi tidak optimal.

Salah satu hal yang menggelayuti pikiran anak bangsa terkait pendidikan adalah mahalnya biaya pendidikan. Di Kota Serang misalnya, biaya pembangunan dipatok dalam kisaran Rp 1 juta lebih. Biaya tersebut ditentukan hanya selang sehari setelah orangtua siswa mendaftarkan anaknya ke sekolah bersangkutan. Bahkan ada sekolah yang sudah mematok biaya saat orangtua siswa mendaftarkan anaknya. Di SDN XIII Serang, orangtua siswa dikenakan biaya pembangunan sebesar Rp 1,2 juta. Sebagai contoh lain ada SMA Negeri kabupaten di Jawa Tengah yang pada tahun ini uang pangkal Rp 3juta-Rp 5juta ditambah SPP Rp 250.000,-/bulan atau Rp 1,5 juta/semester (6 bulan). Demikian halnya sekolah di perguruan tinggi tak kalah mahalnya. Terutama PTN yang telah berubah status menjadi  BHMN atau BHP akhirnya untuk pendanaan dibebankan kepada mahasiswa dengan menaikkan uang pangkal dan biaya semesteran. Sebagai contoh UI, beberapa tahun yang lalu di UI sekitar 2 juta-an. Kini uang untuk kuliah di teknik UI uang pangkal Rp 25 jt, dan semesteran Rp 7,6jt. Untuk ukuran uang berduit di Jakarta itu wajar, tetapi untuk orang kampung yang ingin kuliah di UI sudah takut duluan. Ini karena UI sudah menjadi BHMN yang mana UI memerlukan biaya operasional tambahan karena subsidi negara dikurangi. Memang ada dana BOS dari pemerintah yang meringankan beban para orangtua untuk membiayai pendidikan anaknya, namun dana tersebut belum belumlah cukup untuk memenuhi kebutuhan yang ada apalagi ditambah faktor aparat yang korup. Tidak sedikit anak yang putus sekolah mahalnya biaya pendidikan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s