Pendidikan di Indonesia 2020 #part2

Budi adalah seorang pelajar SMA di sebuah desa pelosok di Papua. Budi berasal dari golongan ekonomi menengah kebawah. Orangtuanya adalah seorang petani. Sebuah cita-cita yang diidamkan Budi kelak adalah menjadi sarjana elektro dan dapat membuat pembangkit listrik tenaga surya untuk diimplementasikan didesanya kelak. Cita-cita tersebut mulai tumbuh ketika guru SMP tempat budi menimba ilmu selalu memberi motivasi kepada Budi untuk selalu bermimpi. Pak Ahmad, wali kelas Budi selalu menekankan bahwa pendidikan merupakan kunci masa depan. Sebelum memulai pelajaran Pak Ahmad selalu meluangkan waktunya untuk sharing kepada murid-muridnya.

Pak Ahmad : “Anak-anak, sebelum memulai pelajaran pagi ini, saya ingin kalian membagi cita-cita kalian dimasa depan kepada teman-teman kalian. Karena sebuah cita-cita akan akan selalu melekat dihati kalian jika kalian bagi dengan orang lain. Siapa yang mau duluan?”

Ganang : “Sayaa pakk!!!. Saya ingin menjadi pilot dan mengarungi dunia! Saya ingin mengulang cerita lama yang pernah ditorehkan Colombus ketika menemukan benua Amerika!”

Anto : “Kalau saya ingin menjadi sarjana teknik sipil lalu membangun jalur transportasi didesa saya pak!”

Pak Ahmad :”Bagus-bagus. Ingat selalu cita-cita kalian ketika masa-masa sulit datang. Cita-cita adalah bahan bakar yang tak ternilai sebagai bekal mengarungi kehidupan. Kalau kamu Budi, apa cita-citamu? ”

Budi : “ehmm.. saya belum kepikiran Pak. Pokoknya saya ingin menjadi orang yang kaya raya lalu saya bisa membeli Playstation3 buat saya bermain, Pak”

Pak Ahmad tersenyum mendengar jawaban polos Budi. Beberapa saat kemudian Pak Ahmad pun berkata dengan bijak.

Pak Ahmad : “Budi, memang tidak ada salahnya ketika kamu menginginkan harta yang melimpah. Namun alangkah lebih baiknya jika kamu mempunyai cita-cita yang mulia, berguna bagi orang banyak. Bukan begitu, Budi?”,kata Pak Ahmad dengan ramah.

Budi : “eh..i-iyaa, Pak”, jawab Budi dengan terbata-bata atas kesadaran yang mulai muncul dari hatinya. Budi teringat kembali nasehat orangtuanya bahwa sebaik-baiknya manusia adalah manusia yang dapat bermanfaat bagi orang lain.

Pak Ahmad :”Ya sekarang kita mulai pelajaran IPA pada pagi ini. Tenang saja, IPA bukan pelajaran yang sulit kok. IPA menyenangkan. Dengan belajar IPA kita bisa mengetahui fenomena alam yang terjadi, bagaimana petir bisa terjadi, bagaimana balon udara bisa terbang dan banyak hal lainnya. Sekarang kita akan membahas tentang listrik. Sebelum mulai, saya ingin menunjukkan fenomena menarik tentang listrik”

Pak Ahmad pun mengambil sebuah apel dari dalam tasnya dan menancapkan logam pada apel. Digunakannya multimeter untuk mengukur tegangan yang timbul. Alhasil jarum multimeter bergerak.

Pak Ahmad :”Ya, lihat anak-anak bahwa dari apel dapat timbul tegangan yang menghasilkan listrik. Mau tahu kenapa? Coba kalian baca dulu halaman 215”

Tiba-tiba Budi mendapat suatu pencerahan dan dengan sigap dia mengacungkan tangan dan berkata.

Budi :”Pak, sekarang saya tahu cita-cita saya, Pak. Saya ingin mengaliri listrik didesa saya agar teman-teman saya dapat belajar dikala malam dan dapat menonton televisi seperti anak-anak dikota. Tapi kalau apel didesa saya masih langka, Pak”

Pak Ahmad :”Bagus, bagus sekali Budi. Untuk membangkitkan listrik tidak harus dari apel. Listrik bisa dibangkitkan dengan memanfaatkan tenaga angin, air ataupun sinar matahari”

Budi :”Kalau begitu saya ingin memanfaatkan sinar matahari, Pak, karena desa saya begitu panas sepanjang hari!!”

Pak Ahmad :”Bagus, Budi! Itulah yang namanya cita-cita! Kejar terus impianmu!”

Budi :”Baik, Pak! Tunggulah beberapa tahun mendatang! Saya akan membuat desa saya maju!”

Itulah sepenggal kisah yang membuat Budi memiliki motivasi untuk terus berjuang meraih cita-cita, melanjutkan ke sebuah perguruan tinggi terkemuka bangsa, Institut Teknologi Bandung. Budi tidak perlu khawatir dengan biaya perkuliahan karena seluruh mahasiswa yang tidak mampu dibiayai oleh rektorat. Tempat tinggal dan buku perkuliahan pun telah disediakan gratis. Budi pun tidak perlu bersusah payah datang ke Bandung untuk mengikuti tes ujian masuk ITB. Sekolah tempat Budi menimba ilmu bekerjasama dengan ITB mengadakan ujian saringan masuk. Sekarang ITB telah membuka ujian saringan masuk di seluruh pelosok Indonesia. Bagi yang tidak mampu secara financial jangan khawatir karena beasiswa selalu tersedia. Budi pun dengan semangat terus belajar. Elektro ITB selalu terngiang-ngiang dibenaknya sebagai tempat menimba ilmunya kelak untuk membangun desanya.

Begitulah sepenggal kisah gambaran pendidikan di tahun 2020. Tidak muluk-muluk angan-anganku terhadap pendidikan di Indonesia 10 tahun mendatang. Sungguh suatu hal yang luar biasa ketika proses pendidikan di Indonesia mampu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.

Suatu hal yang sangat kuimpikan ketika pendidikan tidak hanya tersempitkan pada kegiatan proses belajar mengajar dikelas yang diejawantahkan dalam mata pelajaran. Guru dapat berperan sebagai pendidik dapat berperan membentuk karakter siswa. Proses pendidikan tidak hanya mengacu pada mata pelajaran namun dalam segala kegiatan baik didalam maupun diluar kelas. Segala kegiatan disekolah baik ekstrakuliler dan intrakulikuler terintegrasi dengan baik sebagai wahana pendidikan bagi peserta didik.

Tidak ada lagi putra-putri bangsa yang putus sekolah akibat mahalnya biaya sekolah. Beasiswa selalu ada bagi mereka yang membutuhkan. Semua anak bangsa mendapat haknya untuk mengenyam pendidikan tidak membedakan apakah tinggal di Jakarta ataupun Papua. Infrastruktur pendidikan telah dibangun dari Sabang sampau Merauke dengan standardisasi yang baik. Tidak ada gedung sekolah yang rusak. Kualitas pendidikan dikota ataupun didesa pun merata. Tidak ada lagi anak bangsa dari pedesaan yang harus pergi menuntut ilmu kekota demi pendidikan yang lebih baik. ITB, UI, UGM, ITS dan berbagai institusi pendidikan terbaik negeri tersebut dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat.

Guru dapat mendidik peserta didik dengan baik karena kesejahteraan pribadinya telah terjamin. Dengan berbagai macam metode pengajaran yang mudah dan menarik membuat siswa tidak pernah bosan sehingga materi dapat dicerna dengan baik. Derajat guru dimata masyarakat pun tinggi karena guru adalah agen pencerdas anak bangsa. Sesuai dengan perannya guru diapresiasi dengan gaji yang layak. Guru menjadi salah satu profesi yang diminati, setara dengan menjadi karyawan di multinational corporation yang selalu didamba-dambakan orang-orang.

Begitulah kondisi pendidikan di Indonesia tahun 2020. Sebuah harapan ideal dariku bahwa pendidikan yang ada di Indonesia nantinya dapat benar-benar menjawab tantangan masa depan. Pendidikan mampu menjadi jembatan untuk mentransrofmasikan potensi negeri menjadi kemakmuran bangsa. Memang pendidikan bukanlah apa-apa namun dengan pendidikan apapun bisa kau raih. Tidak salah jika ada yang mengatakan bahwa penddikan merupakan cerminan Indonesia masa depan.

Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater, Merdeka!

2 thoughts on “Pendidikan di Indonesia 2020 #part2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s