Thousand Hand Revolution

Berikut ini merupakan artikel pada segmen teknologi pada  majalah mingguan Tempo 11 Januari 2010. Dikutip dari internet. Berikut ini kutipannya :

tim pembuat Thousand Hand Revolution di ajang EEA 2009

————————————————————————————————–

Tari Saman Rasa Digital

Melestarikan budaya lewat teknologi.Masih butuh penyempurnaan di sana-sini.

KARINA Asri Maya memang bukan penari. Tapi dia suka mengamati permainan Dance Dance Revolution (DDR)—game tarian yang unik, energik, dan modern. Selain menghibur, permainan yang bermanfaat untuk gerak badan itu sudah sejak dulu merupakan salah satu favorit remaja di arena bermain di mal-mal.

DDR adalah permainan kategori musik berbasis video game Jepang. Biasanya, para pemain menggunakan lantai yang terdiri atas tombol empat sampai delapan arah sebagai tempat menari (dance stage). Setiap tombol harus diinjak sesuai dengan instruksi dan ritme musik yang tampil di layar monitor. ”Sayang, content-nya belum memperlihatkan jati diri budaya Indonesia,” kata Karina, mahasiswi angkatan 2007 Jurusan Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, Selasa pekan lalu. Maksudnya, semua jenis dansa di DDR masih berbau asing dan belum ada yang membuat game berbasis tarian tradisional Indonesia. Padahal, kata Karina, kebudayaan tradisional bisa disatukan dalam satu produk permainan modern. Maka, bersama dua teman seangkatannya, Nurfitri Anbarsanti dan Nadhilah Shabrina, Karina pun menciptakan Hands Revolution, yang mengemas tari Saman dalam bentuk DDR.

Thousand Hands Revolution mengantarkan tiga mahasiswi yang dikenal dengan julukan Putri Petir itu meraih juara I lomba tingkat nasional dalam Electrical Engineering Awards 2009 untuk kategori electronic entertainment for culture development yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Elektro ITB akhir tahun lalu.

”Tim Putri Petir menyisihkan puluhan karya terbaik dari pelbagai universitas ternama di Indonesia,” kata Fitrian Pambudi, Ketua Himpunan Mahasiswa Elektro sekaligus panitia acara.

Menurut Nurfitri Anbarsanti, ide pembuatan game Revolusi Seribu Tangan memang muncul dari permainan DDR yang juga dapat dimainkan di rumah melalui video game console, seperti PlayStation, Nintendo, Xbox, Wii, bahkan komputer jinjing dan PC.

Tidak seperti DDR yang pada umumnya hanya menggunakan langkah kaki, dalam permainan Revolusi Seribu Tangan, para pemain diharuskan mengenakan baju adat asal Aceh yang didesain khusus. Ini bukan baju adat biasa. Lebih tepat disebut baju elektronik guna mengontrol permainan. Warna baju didominasi oleh warna kuning dan hijau. ”Di dalamnya telah dipasang 12 detektor untuk mendeteksi gerakan tari Saman,” kata gadis yang akrab dipanggil Santi ini. Letak detektor, kata Santi, sengaja ditempel di bagian-bagian tubuh tertentu, seperti paha kanan dan kiri, bahu kanan dan kiri, telapak tangan kanan dan kiri, punggung tangan kanan dan kiri, siku kanan dan kiri, serta dua lainnya diletakkan di lantai kanan dan kiri (lihat gambar). Jadi cara bermainnya adalah melakukan gerakan badan dan tepukan tangan laiknya tari Saman yang dilakukan sembari duduk berlutut. Pemilihan tari Saman, yang juga dikenal dengan tari seribu tangan, untuk permainan Revolusi Seribu Tangan bukan tanpa alasan. Tarian asal suku Gayo, Aceh, ini telah mendunia. Tari ini biasa ditampilkan dalam acara adat, seperti perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Nama ”Saman” berasal dari salah satu ulama Negeri Serambi Mekah, Syekh Saman. Awalnya, tari Saman digunakan untuk dakwah, pendidikan keagamaan dan sopan santun, serta pelatihan kepahlawanan, kekompakan, dan kebersamaan. Karina mengatakan tari saman itu unik. ”Dibutuhkan kecepatan dan ketepatan dalam memainkannya.” Selain itu, memainkan tari seribu tangan menuntut keserasian gerakan badan serta gerakan memukul dada dan pangkal paha. Meski demikian, permainan Revolusi Seribu Tangan ini menyediakan beberapa pilihan tingkat kesulitan permainan.

Perangkat yang dibutuhkan untuk memainkan tarian seribu tangan adalah sebuah komputer yang telah dijejali aplikasi permainan. Baju elektronik yang berfungsi sebagai peranti keras permainan, tinggal dihubungkan melalui sambungan kabel USB (Universal Serial Bus/standar interkoneksi antara komputer dan peralatan eksternal).

Kelihaian pemain menepuk bagian tubuh yang ditunjuk dalam monitor akan mempertinggi skor para pemain. ”Semakin tinggi nilai, semakin sempurna tari yang dilakukan pemain,” katanya. Sedikitnya ada 31 variasi gerakan yang akan terbaca dalam permainan. Mulai tepuk paha, bahu, lantai, siku, dan memiringkan badan. Setiap gerakan tari yang dianggap benar akan memperoleh poin nol sampai lima. Poin nol untuk setiap gerakan yang terlewatkan, satu untuk gerakan buruk tidak mengenai sasaran, tiga lumayan, dan lima sempurna. Selama dua menit, dalam iringan lagu daerah Aceh, pemain akan bersenang-senang mengumpulkan poin masuk ke dalam dunia seribu tangan.

Revolusi Seribu Tangan mulai dibuat Juli tahun lalu. Biayanya relatif kecil, sekitar Rp 400 ribu. Bahan yang dibutuhkan tak banyak, di antaranya baju, kain, karpet DDR, kabel, dan peralatan jahit. Pembuatan peranti lunak tidak membutuhkan biaya besar lantaran memanfaatkan komputer jinjing pribadi dan akses Internet untuk mengunduh aplikasi yang dibutuhkan. Kesulitannya justru terletak pada ide dan keleluasaan tim berkumpul lantaran kepadatan perkuliahan. ”Terutama mencari bahan dan menjahitnya,” kata Karina. Peranti lunak yang digunakan dalam permainan Revolusi Seribu Tangan ini dibuat dua rekan mahasiswi dari Jurusan Teknik Informatika angkatan 2007, yaitu Sesdika Sansani dan Hapsari. Keduanya membuat program yang bisa memunculkan fitur permainan, menghitung skor per gerakan berdasarkan ketepatan gerakan dengan tempo musik, menghitung dan menampilkan total nilai, serta menampilkan nilai tertinggi dan pilihan tingkat kesulitan tes pakaian serta item memulai dan keluar dari program. ”Pokoknya ini murni girl power,” kata Karina sembari tersenyum.

Menurut Sesdika, peranti lunak Revolusi Seribu Tangan dibuat dengan menggunakan bahasa pemrograman Java dan NetBeans (aplikasi berbasis sumber terbuka). ”Pembuatannya tidak terlalu sulit, tapi hanya terganjal waktu kuliah,” kata Sesdika. Total waktu pembuatan mencapai dua bulan lantaran pekerjaan pembuatan peranti lunak itu dikerjakan sedikit demi sedikit. Java merupakan salah satu bahasa pemrograman berbasis obyek secara murni. Operasi ini memudahkan pemrogram mendesain, membuat, mengembangkan, dan mengalokasi kesalahan sebuah program secara cepat, tepat, mudah, dan terorganisasi. Selain mampu dioperasikan di beberapa sistem operasi komputer, Java terkenal dengan kelengkapan library atau kumpulan program yang disertakan dalam pemrograman Java yang sangat memudahkan penggunaan oleh pemrogram untuk membangun aplikasinya. Karina sadar bahwa game buatan tim Putri Petir—nama yang terinspirasi oleh gambar petir di logo Jurusan Teknik Elektro—masih perlu disempurnakan. Ukuran bajunya, misalnya, mesti dibuat lebih variatif untuk mengantisipasi pelbagai ukuran badan pemain. Letak sensor gerak dan jalur kabel juga perlu ditata ulang agar nyaman bagi para pemain. Bahan pakaian pun harus dicari agar tidak mudah kotor dan gampang dibersihkan. (Rudy Prasetyo)

—————————————————————————————————

Semoga kutipan artikel tersebut dapat membakar semangat kawan-kawan anggota HME untuk berkarya. Ternyata sungguh kita dikarunia dengan potensi yang luar biasa yang dapat menginspirasi Indonesia. Mari berkarya!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s