Kungkungan Idealitas

Akhir-akhir ini aku ‘dijejalil’ secara intensif tentang realita bangsa. Mulai dari sharing ketika forum silaturahmi Bidang Pengabdian Masyarakat, Palapa II di Garut ataupun ketika seminar alumni ’74.

Karisma, temanku, bercerita bahwa sungguh luar biasa rasanya mempunyai pengalaman turun langsung ke masyarakat. Sungguh bangga ketika masyarakat bertanya kepada mahasiswa dan dijawab,”Kami ingin pergi ke Desa Mekarwangi membangkitkan listrik disana.” Frame mahasiswa yang baru ketika gerakan yang terjadi selama ini diimbangi dengan aksi kongkret pengembangan komunitas turun ke masyarakat.

Sama halnya ketika aku mengikuti seminar ’74. Berbagai narasumber dengan tantangan yang tak kalah menerpa mereka menceritakan realitas yang terjadi di masyarakat. Bu Yati bercerita bahwa keluarga miskin di Jakarta sudah sangat banyak. Bayangkan ruangan 2×3 meter dihuni sampai 3 kepala keluarga. Karena keterbatasan tersebut maka setiap keluarga tidur secara bergantian. Ada yang tidur disaat siang, ada yang tidur ketika malam telah tiba. Sungguh pelik ketika Bu Yati bercerita bahwa untuk berobat tatkala sakit pun sulit. Kaum ekonomi menengah kebawah menjadi kaum marginal ketika mencoba mencari kesembuhan di rumah sakit. Semua harta benda didesa dijual hanya untuk membuka usaha di Ibukota. Pedagang asongan, jualan kue keliling, dsb bukanlah cita-cita mereka namun karena keadaan yang memaksa. Ataukah cerita lainnya tentang krisis air di Bali, susahnya petani mengembangkan usahanya dan masih banyak lagi.

Sebuah pengalaman masa laluku pun kembali terngiang. Tidak sedikit kawanku pada waktu itu menjadi loper koran disaat paginya dan sekolah disaat siangnya. Ketika ada waktu luang dia membantu orangtuanya berjualan kue. Ada lagi seorang teman yang berjualan sayur dan ikan dipasar bersama neneknya untuk mencukupi kebutuhan sekolahnya, seorang anak yang duduk dibangku sekolah dasar. Sungguh ironi pula seorang kawan kecilku dulu, juara kelas, harus berhenti mengeyam pendidikannya di bangku SMA. Dia harus mengayuh becaknya untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari.  Tidak semua orang begitu beruntung dapat menikmati indahnya bangku pendidikan. Namun yang sekarang mendapat kesempatan menuntut ilmu di perguruan tinggi terkesan ogah-ogahan.

Kini aku merupakan salah seorang yang beruntung dari puluhan ribu anak bangsa yang dapat menjejakkan kaki di kampus terbaik bangsa. Berbagai mahasiswa dari berbagai daerah berkumpul disini. Aku baru menyadari bahwa sudah tidak kujumpai lagi keadaan ketika dulu aku bersekolah. Sudah tidak kutemui lagi pemuda yang harus bekerja membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan kuliahnya. Semuanya mapan, semuanya berada dalam zona nyaman. Tidak ada lagi obrolan,“Apa ya yang bisa kita makan hari ini? Gimana ni bayar SPP bulan ini?


Yang ada hanyalah,”eh HP keluaran terbaru apa ya? Enaknya hari ini, besok mau nonton kemana dan ama siapa ya? Lo kok gak gaul sih. Ngapain kuliah, mending bolos aja. Eh nonton konser yuk kebetulan ada artis favorit gw”. Tidak ada lagi yang tahu apa yang terjadi di masyarakat sebenarnya. Tidak ada lagi yang tahu masalah bangsa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada lagi yang peduli nasib orang diluar kungkungan batu beton kampus ITB. Sepertinya ‘dekat dengan masyarat’ atau ‘berjuang bersama rakyat’ menjadi jargon yang laris. Memang dimana selama ini kita tinggal? Jauh bersama masyarakatkah? Bersentuhan langsung dengan problematika masyarakat menjadi barang yang langka. Kita hidup didalam lingkungan yang ‘ideal’. Tidak ada keresahan dan problematika yang terlihat. Semua kondisi nyaman tersebut membuat kita semakin menutup mata terhadap apa yang terjadi diluar sana.

Aku baru sadar apakah diriku sekarang telah terbuai dengan lingkungan yang serba nyaman ini? Apakah aku telah melupakan segala tetes keringat dan asa yang selama ini telah kulewati? Aku adalah aku. Terimakasih Tuhan telah memberiku pengalaman masa kecil yang begitu menakjubkan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s