Sebuah Petualangan, Curug Malela

“Jika kamu tidak tahu jalan menuju puncak, teruslah mendaki menuju keatas. Teruslah berjalan melawan lelah. Semakin terjal medan yang kamu lalui, semakin cepat menuju ke puncak. Jika kamu berjalan pada jalanan yang datar saja sesungguhnya kamu stagnan, berada pada ketinggian yang sama. Jika kamu nyaman berjalan pada jalanan menurun maka kamu akan kembali ke kaki bukit. Teruslah mendaki melewati berbagai rintangan untuk menuju puncak”

(Fitrian Pambudi, 29 Mei 2010)

Tak terasa liburan telah tiba. Segala ujian dan tugas yang melelahkan telah berarkhir. Saatnya waktu  untuk refreshing memanjakan diri. Sebuah alternatif liburan yang murah dan mengasyikkan yaitu wisata alam menjadi pilihan. “Gak asyik nie kalau gak ada teman”, pikirku. Maka kuungkapkan niatanku tersebut kepada seorang teman yang tidak mau disebutkan namanya disini (sebut saja Dimas Putra Paramajaya). Dengan media chat di yahoo messenger Dimas mengajukan sebuah ide yang kelak akan merubah jalan hidup kami.

smalane_57: Dim, jalan-jalan yuk bosen di kosan terus, ke Ciwidey atau lembang gitulah..

dimas_p: Ah, bosen kesitu-situ melulu. Cari tempat lain lah, gan…

Terjadi jeda selama 15 detik

dimas_p: Nah, awak pu nya usulan tempat ni gan,.habis browsing,. Ni alamatnya, cekidot

smalane_57: Apaan ni gan??

dimas_p: Udah,.cek aja gak usah banyak tanya

Ketika ku-klik alamat tersebut maka timbul halaman blog seseorang yang berisi kisah perjalanannya ke Curug Malela. Itulah asal-usul timbulnya nama Curug Malela dibenakku. Tujuan sudah ditetapkan sekarang tinggal mencari teman untuk berangkat. Gak asik kan kalo jalan-jalan sendirian. Satu persatu teman kuhubungi namun nihil. Beruntung Tuhan mempertemukanku dengan Reza Pebrian (sebut saja makhluk satu ini Japeb karena pada tulisan kali ini kita akan menemui banyak nama Reza), salah satu partner yang akan menemaniku pergi bertualang. Memang agak sedikit janggal kalau pergi berdua. Kurang rame lah, terkesan so gay lah, namun bagiku bayangan keindahan Curug Malela telah memusnahkan segala pikiran aneh  tersebut. Untuk menyempurnakan misi tersebut direkrutlah Reza Firdaus alias Japir. Sebelum memulai misi diadakanlah sebuah konferensi antara saya alias pam beserta Japeb dan Japir. Tempat yang dipilih adalah Dago Atas, sebuah tempat yang romantis dapat memandangi kilauan bandung dari atas bukit, namun menjadi tidak romantis jika pergi bersama 2 orang lelaki. Maka tempat konferensi pun di ungsikan ke Serburame daerah Tubagus Ismail. Sambil makan kami mencari informasi mengenai Curug Malela dengan menggunakan 2 buah laptop.

Pam: Gimana boi, udah dapet info untuk pergi ke Curug Malela?

Japeb: Ini awak dapet datanya lengkap diinternet. Katanya sih disarankan agar jangan menggunakan motor bebek karena tracknya yang luar biasa parah.

Pam : Wow,.serius kau? Perasaan ada sohibku yang pergi kesana pake motor bebek dan masih bisa kembali ke Bandung dengan utuh?!?

Maka kuhubungi temanku yang lagi-lagi bernama Reza alias Reza Narindra untuk menanyakan kebenaran info tersebut. Dan ternyata katanya motor bebek dapat menaklukkan medan ke Curug Malela.

Pam: Motor bebek bisa kok ternyata, tapi kayaknya gak mungkin pake motorku. Diuji coba ke Dago atas aja udah sekarat apalagi medan yang lebih terjal…

Japir: Tenang bro, aku ada solusinya. Aku bisa pinjem sepeda motor Supra kepunyaan kakakku yang oke punya!

Masalah transportasi beres. Japeb mengajak seorang yang mirip vokalis band Samson, sebut saja namanya Zul, menjadi bagian dari tim kami. Akhirnya the dream team telah terbentuk. Tunggu, ada sesuatu yang janggal! Kemanakah gerangan bung Dimas yang telah memperkenalkan kami pada Curug Malela? Mengapa dia tidak menjadi bagian dari tim kami?? Apakah dia dilupakan atau ditinggalkan? Apakah dia tiba-tiba sakit sehingga kami tidak bisa menerimanya menjadi bagian dari tim?? Jawabannya sederhana. Dimas ketiduran.

Kami memutuskan berkumpul di chech point pertama Toko Kita cisitu jam06.30 pagi. Sebelum melanjutkan perjalanan lebih jauh kami singgah ke SPBU untuk melakukan hal yang harus dilakukan sebelum perjalanan, hal yang penting sebelum bertualang : kencing dan boker

Ini dia foto Japeb yang lugu bersama 3 motor yang kami pake di SPBU

Membuang benda-benda aneh didalam perut membuat Zul, front man team, merasa lapar. Okelah, kami memutuskan rehat 30 menit untuk makan dahulu. Selama perjalanan kami benar-benar bekerja sebagai team. Zul dengan Shogun birunya berada dibarisan paling dengan, saya dan Japir dengan Supra hitamnya berada di tengah. Japeb dengan shogun ungunya berada paling belakang menjaga agar saya dan Japir gak hilang. Japeb tidak berlebihan karena memang Japir dijuluki teman-temannya sebagai Bolang. Bukan sebagai bocah petualang namun bocah ilang.

Rugi kalo selama perjalanan gak pake ritual poto-poto maka kami memutuskan untuk berhenti sejenak dan berfoto dengan latar belakang bukit nan hijau. Dibawah ini adalah foto saya bersama Japeb.

Mendaki gunung lewati lembah, sungai yang indah kami lewati. Ibarat soundtrack ninja Hatori, jalan yang kami lewati sangat beraneka rupa. Karena santai dibonceng Japir, diriku hanyut dalam lamunan ilmiah yang telah lama terbenam dibenakku.Dulu diriku pernah mual dan muntah ketika menaiki mobil ataupun kereta api ketika melewati jalan seperti ini.Namun belum pernah kudengar ada orang yang mual dan muntah karena naik sepeda motor. Kegalauanku tersebut sebenarnya pernah kuungkapkan kepada salah seorang kawan. Dia menganggap ideku itu sungguh brilian dan alangkah baiknya jika dijadikan riset untuk tugas akhir alias TA.

Tanpa terasa perjalanan telah mengantarkan kami lebih dekat dengan Curug Malela. Seperti biasa ritual poto-poto kami lakukan. Berbekal kamera Nikon punya Japir, saya memotret kawan saya dengan background sebuah jalan yang dikelilingi pohon dan kebun teh yang indah. Kejadian ini berlangsung sekitar jam10 pagi.

Dapat dilihat pada poto diatas bahwa seorang pemuda yang berdiri di samping kanan tersebut bukanlah Bams Samson, dialah Zul. Sedangkan pemuda yang terlihat alim dan intelek dengan kacamatanya di samping kiri adalah Japir.

Semakin lama jalan yang kami lewati semakin menantang. Kami melewati perkampungan warga dengan pemandangan sungai yang apik disampingnya. Gunung Halu, Rongga telah kami lewati. Curug Malela semakin dekat. Untuk sebuah tempat yang relatif tidak mudah ditemukan, sebuah prinsip saya pegang erat : malu bertanya sesat dijalan. Berbekal bahasa Sunda yang pas-pasan (hanya bisa ngomong “punten” dan “nuhun”) saya bertanya kepada warga. Memang warga di pedesaan sungguh ramah-ramah. Sekilas timbul pikiran untuk tinggal dan menikahi kembang desa disana.

Setelah jam10.45 kami telah sampai dipenghujung jalan. Disana banyak warga menyewakan jasa ojek dengan menggunakan motor off road. Beruntung disana kami bertemu kepada salah seorang warga yang bakal memiliki kontribusi yang signifikan terhadap perjalanan kami. Sebut saja namanya Mr. X. Atas rekomendasi Mr. X kami menitipkan sepeda motor kami didepan rumahnya. Hal ini kami lakukan karena medan kedepan sungguh sangat liar dan tidak cocok dengan motor bebek yang kami pakai sehingga kami memutuskan berjalan sejauh 2,5 km dengan waktu tempuh sekitar 1 jam-an lebih.

Disinilah kami memarkir sejenak sepeda motor. Memang sebuah keajaiban telah terjadi. Sebuah motor Supra yang dinaiki 2 orang dewasa mampun mengarungi derasnya lumpur dan jalan bebatuan.

Ini dia jalan kami tempuh dengan berjalan kaki. Pada awalnya memang terlihat biasa namun kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi didepan.

Kami  terus berjalan memasuki hutan dengan semangat. Insting seorang petualang sangat diperlukan ketika menemui sebuah percabangan jalan untuk menentukan jalan mana yang harus dilalui. Semangatku terus membara berjalan menyusuri bebatuan. Entah apakah itu karena efek minuman berenergi yang kubeli di pinggir jalan (sebut saja Kratingdaeng) ataukah memang  diriku yang begitu antusias. Langkah kami terhenti sejenak ketika kami melihat sebuah gubuk kayu dengan 2 jalan percabangan.

Gubuk kayu misterius yang kami temui ditengah perjalanan ke Curug Malela

Kami mulai ragu untuk melangkah. Ke kanan atau kekiri? Di sebelah kanan terlihat dari jauh perkampungan warga. Jalan kekanan relatif datar. Sedangkan jalan kekiri relatif menurun menuju hutan dan sawah. Ditengah kegalauan yang melanda kami memutuskan untuk mengadakan sidang istimewa untuk memutuskan jalan yang akan kami ambil. Ditengah sidang didalam gubuk, Japeb melihat sebuah plat nama berbentuk arah. Plat kayu yang menunjukkan arah kekanan tersebut dicat hijau dengan huruf berwarna putih menunjukkan kata “Malela”.  Sekilas orang awam akan mengira bahwa arah Curug Malela adalah kekanan. Namun kami bukanlah seorang yang amatir, bung. Kami merasa ada sesuatu yang janggal. Pasti tidak semudah itu menuju Curug Malela. Bahkan Sun Go Kong pun harus berjibaku menemani gurunya mengambil kitab suci ke Barat. Kami terus memutar otak apakah ini jebakan? Beruntung ditengah kegundahan tersebut seorang anak berseragam SMP berjalan melewati kami. Tanpa basa-basi saya dan Japeb mendatangi anak tersebut.

Pam: punten dik, arah menuju Curug Malela kemana ya?

Anak SMP: ^*&(*@&@^#&%3$! (gak ngertilah, pokoknya dalam bahasa Sunda, namun yang pasti dia menunjukkan ibu jarinya kearah kiri)

Pam: Nuhun, sep ya..

Sempat tercetus dalam benakku untuk menggunakan pisau yang kami bawa. Persediaan minum semakin menipis, uang pun semakin minim. Ada niatan untuk memalak anak SMP tersebut pake pisau. Atau bahkan menculiknya dan kemudian dapat ditukar dengan tebusan berupa hasil ternak warga. Namun ajaran moral dari orangtuaku menghalangi rencana matang tersebut.

Perjalanan terus berlanjut dengan medan yang semakin terjal. Tetesan keringat tak terhindarkan. Ditengah kelelahan yang membabi buta, semangat kami kembali terpompa setelah melihat Curug Malela dari kejauhan.

Curug Malela yang sudah terlihat. Dapat dilihat senyum dan tawa kembali merekah setelah dapat melihat Curug Malela dari kejauhan.

Ibarat sebuah oasis, kami menghampiri sebuah gubug pedagang yang ada didekat kami untuk  membeli kebutuhan minum dan makan serta menikmati keindahan alam ciptaan Tuhan yang terbentang luas didepan kami. Tanpa membuang banyak waktu kami langsung melanjutkan perjalanan. Selang 10 menit berlalu, kami harus menaklukkan medan kombinasi antara sawah dan hutan.

Medan sawah yang harus dilalui

Ketika asyik berpetualang, gelegar petir mengiang di imajinasiku. insting saktiku  merasakan sesuatu bakal terjadi. Entah apakah itu tapi hal tersebut merupakan pertanda buruk. Dan dalam instingku tersebut, hanya aku yang bisa menghentikannya. Kontan saja aku langsung mendengar teriakan “TOLOONGG!!”,.. Dengan refleks yang begitu cepat, aku langsung memegang tangah Japeb menahannya agar tidak terperosok ke jurang! Nyaris gan!

Penyelamatan Japeb oleh Pam, dapat dilihat Zul hanya diam berdiri karena kejadian yang sangat cepat terjadi dalam skala sepersekian detik.Hanya seorang dengan insting yang sangat baik yang bisa melakukan penyelamatan dengan cepat.

Tidak seperti kisah-kisah dongeng, aku tidak mengharapkan imbalan apapun kepada Japeb karena telah menyelamatkan nyawanya. Aku tidak meminta seluruh hartanya, aku tidak meminta dia mengabdi kepadaku, membersihkan kosanku seumur hidupnya. Yang aku pinta hanyalah semangkok mie ayam didepan Toko Kita. Tidak ada waktu untuk bersuka cita. Misi harus dilanjutkan sebelum hujan turun.  Perjalanan dilanjutkan melalui hutan rimba. Kami tidak tahu ada apa didalam hutan rimba tersebut. Kami tidak bisa memprediksi jika ada harimau, ular bahkan lumba-lumba didalam hutan tersebut. Dengan keyakinan penuh kami terus melangkah. No way back, guys!

Hutan rimba yang harus kami lalui. Jarak kami dengan Curug Malela semakin dekat! Haus yang begitu mendera harus kuacuhkan karena memang disekitar sana tidak ada Indomart yang menjual berbagai macam minuman dingin.

Hutan yang begitu curam dan licin tersebut berhasil kami lewati. Sampailah kami ke Curug Malela! Congratulation guys!

Pose pertama ketika telah mencapai Curug Malela. Terimakasih kepada Japeb yang bersedia berkorban memotret kami dengan konsekuensi tidak masuk dalam poto. Tapi karena saya baik, maka kupotret Japeb kembali agar bisa nongol dalam cerita ini.

Gambar Japeb sedang memotret saya, zul dan Japir


Berpose didepan Curug Malela. Kehendak awal ingin berenang dibawah Curug malela, namun karena derasnya arus maka kami urungkan niat tersebut.


Derasnya sungai dibawah Curug Malela. Begitu berkesannya ketika kami harus menunaikan shalat diatas batu karang.

Memang gokil rupa dari Curug Malela! Misi telah terlaksana. Tantangan berikutnya adalah kembali ke perkampungan dengan medan yang menanjak. Tentu bakal sangat melelahkan. Untuk cerita selama perjalanan pulang akan diceritakan pada episode selanjutnya yaaa..

Nah, sekarang serius, bagi yang berminat pergi ke Curug Malela jangan lupa untuk memakai sepatu untuk melindungi kaki dari medan yang berat. Jangan lupa titipkan kendaraan bermotor anda pada tempat yang aman. Sebenarnya jika anda tidak kuat mengalahkan alam Curug Malela yang lumayan masih perawan, tersedia jasa ojek yang siap mengantarkan anda. Saran saya agar memakai tongkat khususnya pada perjalanan pulang untuk menjaga keseimbangan dan membagi berat agar kaki tidak cepat letih. Jadi, silakan kunjungi Curug Malela, petualangan alam yang murah meriah alias gratis!

One thought on “Sebuah Petualangan, Curug Malela

  1. “TOLOONGG!!”,.. Dengan refleks yang begitu cepat, aku langsung memegang tangah Japeb menahannya agar tidak terperosok ke jurang! Nyaris gan!

    Mana ada adegan kek di sinetron. Yang bener gw keperosok, pegangan dahan, yang laen dateng telat –“

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s