Sedikit Cerita tentang PENA

Gak terasa sekarang aku udah duduk di semester 6 (mau naik semester 7 ni, hehe) di teknik elektro. Memang waktu terasa cepat berlalu, apalagi ketika aku membuka sebuah file video yang menyelip di komputerku. Sebuah file yang bernama PENA 2004. Sebuah perasaan yang kuat menerpaku ketika kubuka file tersebut. Tampak dalam video tersebut segerombolan anak-anak yang baru lulus SMP yang masih tampak cupu berbaris rapi di depan gerbang SMA Negeri 5 Surabaya. Ya, aku masih ingat berada didalam situasi seperti itu. Mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam kuberbaris didepan didepan gerbang yang ditutupi kain hitam. Tunggu dulu, guys! Ini seperti aksi sulapan yang seperti kulihat di TV. Orang masuk dibalik kain dan setelah keluar berubah menjadi macan. Namun ini sedikit berbeda. Ketika masuk orang-orang masih dalam keadaan ceria bercanda dan tertawa. Namun ketika keluar dari gerbang berkain hitam rata-rata kuamati ekspresi anak tersebut hanya terdiam kusam. Bahkan tidak sedikit pula yang menangis. Ada beberapa senior yang menenangkan anak yang tegang setelah keluar dari gerbang tersebut dengan memberi minuman sirup beraneka warna. “Ada apa ini, guys?? Apa yang terjadi didalam sana??? Dan siapakah senior-senior yang dengan sabar menenangkan siswa yang tegang?”, dan kelak aku akan mengenal mereka sebagai sebuah keajaiban yang bernama panitia SAMBA. Mereka adalah panitia yang memang dapat benar-benar memberikan ketentraman hati.

Kata Chrisye, masa terindah adalah masa di SMA. Menurutku pribadi sih nggak juga, karena masa SD ku dan masa selama kuliah di ITB merupakan sebuah masa yang tak kalah indah. Sebuah proses orientasi siswa baru yang bernama PENA 2004 telah memberikanku kesan yang begitu mendalam. Tak terbayangkan begitu bangganya aku mengenakan atribut SMA Negeri 5 Surabaya ketika PENA 2004 yang memakan waktu satu minggu tersebut telah berakhir. Perasaan itu sama kuatnya dengan euforia yang timbul dalam diriku ketika aku diterima menjadi mahasiswa ITB. Dan sama mendalamnya pula ketika aku diamanahi memimpin Himpunan Mahasiswa Elektroteknik ITB sebagai ketua umum. Kembali lagi ke PENA 2004, memang masa tersebut adalah masa yang indah. Kapan lagi jam 02.00 pagi aku keliling untuk membeli korek api batangan. Ya, tugas membuat karikatur panitia PENA 2004 memang sudah paling top. Bekerja kelompok di rumah Indro ataupun Arinda juga tak kalah mengasikkan. Proses PENA 2004 pula telah mengenalkanku pada seorang kawan sebangku yang akan menemaniku selama 3 tahun belajar di SMA dan memberiku kesempatan menjadi bagian dari sebuah kelas yang hebat : Gankshal.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s