Surabaya Night Sky, 5th September

Seekor rajawali terbang melintasi kota mulai dari terbitnya sang mentari sampai dengan munculnya sang cantik rembulan. Tubuhnya tidaklah terlalu besar. Sayapnya tidaklah indah yatu berwarna gelap pudar dan mulai berguguran beberapa bulunya. Didekat matanya terdapat sebuah bekas luka, bekas cakaran untuk memperebutkan daging makanan kesukaannya. Namun dengan berbagai macam kondisi yang dimilikinya sang rajawali masih bisa terbang diatas hiruk pikuk kehidupan.

Pada suatu hari sang rajawali merasa lelah. Perutnya memang lapar belum terisi daging kesukaannya. Diputuskanlah sang rajawali berhenti sejenak merapatkan sayapnya di atas sebuah atap rumah. Matanya yang tajam menangkap sebuah pemandangan yang menarik. Di seberangnya terdapat seekor burung nuri. Sayapnya sangat indah dengan tiga corak warna yang begitu mempesona. Tubuhnya masih mulus tanpa luka goresan. Suaranya dapat bernyanyi dengan merdu sehingga dapat melenakan orang yang mendengarnya. Nuri itu berdiam didalam sebuah sangkar yang cukup luas dengan berbagai mainan kesukaannya. Sebuah track roda berlari untuknya berolahraga, makanan kesukaannya yang siap sedia dan berbagai potongan ranting untuk tempatnya berhinggap. Tak mungkin mata rajawali tak silau memandang karena sarang burung nuri terbuat dari emas yang berkilau memantulkan cahaya sang mentari.

Sang rajawali pun mendekat secara perlahan. Sungguh jarang dilihatnya seekor burung nan cantik dengan kemewahan menyilau mata berdiri didepannya.

Sang rajawali : Hai burung nuri, aku adalah rajawali yang sedang beristirahat. Aku lapar. Bagaimana kau bisa berada disana? Didalam sangkar yang sungguh enak dipandang mata?

Sang rajawali mulai membuka obrolan dengan suara paraunya.

Burung Nuri : Wahai rajawali, telah lama diriku berada disini. Semenjak aku kecil seorang lelaki tua yang kaya begitu memperhatikanku. Diberinya aku berbagai kemewahan yang seperti kau lihat didepanmu sekarang. Dilatihnya diriku sehingga aku bisa berkicau dengan merdunya. Engkau lapar? Ini makanlah makananku sebagian…

Sang rajawali : Nuri, aku tidak bisa makan makananmu. Aku biasa makan daging hasli berburu dengan sang pemburu udara lainnya. Hai nuri, sungguh nyamannya dirimu hidup seperti itu tidak kelaparan dan kedinginan tatkala hujan. Apakah kau bisa berbagi tempat denganku? Apakah kau bisa merayu majikanmu untuk?

Burung Nuri : … tidak, sang rajawali. Hidupmu bukan disini.

Sang rajawali : Mengapa kau berkata demikian? Sungguh aku tidak mau kelaparan lagi. Berburu dan mengucurkan darah untuk mendapatkan daging.

Burung Nuri : wahai rajawali. Apakah kau lupa siapa dirimu sebenarnya? Engkau adalah sang rajawali raja udara. Nama besarmu yang menggelegar telah lama kudengar. Tempatmu bukanlah disini. Mungkin kau melihat segala yang kudapat adalah membahagiakan. Tak pernah lapar, kedinginan dan mempesonakan. Namun terkadang aku iri padamu. Aku iri padamu yang dapat terbang bebas tinggi melintasi cakrawala harapan ditengah terik sang mentari. Aku iri padamu atas dunia yang telah kau lintasi dan kau lihat selama ini. Aku iri pada insting, kemampuan bertarung dan terbangmu yang membuatmu dapat bertahan hidup sampai sekarang. Engkau adalah makhluk yang bebas, terus terbang tinggi, pikiranmu tak terbatas hanya dalam dimensi raga dan waktu. Segala hal yang kumiliki sekarang tidak akan bisa mengubahku menjadi rajawali. Sangkar emas, makanan berlimpah hanya menjadikanku tetap nuri. Dan tahukah kamu rajawali, bahwa seekor burung sejati adalah sang pemimpi yang terus terbang menuju cahaya cita-cita. Kau adalah rajawali yang telah menempuh proses yang keras yang sebenarnya telah menjadikanmu lebih kuat. Seberapa banyak tantangan yang kau hadapi, seberapa dingin udara menusuk tulangmu, kau adalah rajawali dan tetap menjadi rajawali. Sangkar emas tidak bisa menjadikan burung Nuri menjadi Rajawali. Begitu pula segala kesukaran yang kau tempuh tidak akan menjadikanmu menjadi seekor Nuri. Tetaplah terbang tinggi.

Sang rajawali hanya terdiam sesaat dan termenung. Dikepakkanlah sayapnya dengan kuat melawan gaya gravitasi. Dia pergi membumbung tinggi diantara cakrawala angkasa dan kehidupan.

***

Seribu orang tua bisa bermimpi, satu orang pemuda bisa mengubah dunia (Soekarno)

Tempatku adalah di alam liar bersama sang pengejar mimpi dan harapan. Pikiranku tak terbelenggu menembus dimensi raga dan waktu. Aku adalah pejuang kebebasan. Aku siap berlari menembus cakrawala kehidupan. (F.P : 5-9-10)

One thought on “Surabaya Night Sky, 5th September

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s