Sang Pemimpi

Suatu sore disebuah pelabuhan tua di ujung Belitong, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah, Pak Muhid melintas dengan sepeda tuanya. Ayunan sepedanya terhenti setelah pandangan matanya menangkap seorang bocah sedang mengepel dok kapal. Bocah itu adalah muridnya sendiri, Ikal yang selama beberapa hari ini tidak terlihat batang hidungnya di kelas

Pak Muhid : Kal, apa yang kau lakukan disini??!? Kemana saja kau bolos sekolah beberapa hari terakhir?!?

Ikal : … Aku bekerja disini, membantu keluargaku menghadapi realita…

Pak Muhid : Kenapa kau tidak pergi kesekolah, Kal?!?!

Ikal : Pak! Aku adalah orang miskin, aku ingin membantu bapakku yang bekerja sebagai buruh gali di PN Timah. Bapakku sudah mulai menua. Sekolah..sekolah aku bosan mendengar kata-kata itu! Sekolah hanya membuatku untuk terus bermimpi, bermimpi besar mengelilingi dunia dan kuliah di Paris! Omong kosong semua itu! Bahkan aku tidak tahu bagaimana aku bisa melanjutkan pendidikanku! Terus bermimpi hanya membuatku terlena akan realita bahwa aku ini miskin! Lebih baik aku disini bekerja dan mendapatkan uang!

Pak Muhid yang biasanya terkenal galak kepada muridnya terdiam sejenak dan mulai melembut.

Pak Muhid : Kal,… selama ini Bapak bersikap keras kepada kau tidak lain hanya untuk menyadarkan kau. Aku ingin menyadarkan kau bahwa meraih mimpi itu tidaklah mudah. Bermimpilah yang besar! Tidak ada yang melarangmu! namun camkan bahwa didepan kau banyak rintangan menghadang. Aku ingin menyadarkan kau bahwa meraih mimpi itu tidak mudah.  Semakin besar mimpi kau semakin banyak halangan menghadang. Namun janganlah karena itu kau bermimpi kecil. Kalau kau bermimpi mengenyam pendidikan di Paris, kejarlah mimpi kau! Mengapa mimpi harus dikejar? Karena kau harus berlari untuk meraihnya. Kau harus menyiapkan kaki lebih kuat, jantung yang berdegup lebih keras, tetesan keringat yang jatuh harus kau hiraukan. Mungkin kau tidak tahu sudah seberapa dekat kau dengan mimpimu. Namun yang pasti teruslah berlari. Bukan masalah seberapa besar mimpi kau namun seberapa besar kau untuk mimpimu itu.

Ikal : …..

Pak Muhid : Kal, pendidikan bukanlah segalanya namun segalanya dapat bermula dari pendidikan. Orang-orang seperti kita ini akan mati tersisih zaman tanpa pendidikan. Pendidikan adalah kunci. Dan kau disini sekarang tidak berjuang untuk diri kau sendiri. Kau adalah harapan dari orangtua kau. Ayah yang selalu bangga ketika mengambil rapor kau di sekolah dengan baju safari yang bahkan tidak dikenakannya ketika bertemu dengan Gubernur. Hanya dikenakannya ketika mengambil rapormu, Kal. Orangtua kau telah mengorbankan tetesan keringatnya untuk membawa kau ke bangku SMA sekarang dan kau mau menyia-nyiakannya, Kal? Mungkin kau sekarang masih belum melihat titik mimpimu itu. Namun teruslah bermimpi dan optimis. Teruslah berlari mengejar mimpi.

Percakapan antara seorang pengajar dan murid tersebut terhenti oleh kedatangan Arai bersama Jimbrong yagn mendatangi Ikal.

Arai : Kalll… kemana saja kau selama ini bolos sekolah??

Jimbrong : Ka..Kal…A..Aku su..sudah mencari ka..kau kemana-mana

Arai : Apa kau sudah lupa dengan mimpi kita menuju ke Paris? Bukankah kita sudah berniat untuk menjadi yang terbaik di sekolah lalu melanjutkan kuliah di UI dan mencari beasiswa ke Paris? Ayo Kal kembali ke sekolah!

Ikal : Arai,.. Jimbrong.. Beruntungnya diriku memiliki teman-teman yang masih menyayangiku seperti kalian..kalian ini..

PENDIDIKAN BUKANLAH SEGALANYA NAMUN SEGALANYA BERAWAL DARI PENDIDIKAN

(Seorang dari Mahasiswa UI yang bekerja sebagai penjual koran di stasiun)

DENGAN MENOLONG ORANG LAIN MAKA KITA TELAH MENOLONG DIRI KITA SENDIRI DENGAN LEBIH SEMPURNA (R.A Kartini)

KEMERDEKAAN BUKANLAH TUJUAN, RAKYAT YANG BEBAS BERKARYA ADALAH PUNCAKNYA (Sutan Syahrir)

terinspirasi oleh Sang Pemimpi karangan Andrea Hirata

One thought on “Sang Pemimpi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s