Politik yang Menggelitik

Panggung Dagelan

BBM akhirnya tidak jadi naik pada 1 April 2012. Masih diingat berapa minggu  yang lalu seluruh pelosok Indonesia gempar akan aksi jalanan menentang kenaikan BBM (yang ramai diberitakan di TV mah seperti daerah Jakarta, Makassar, Medan, Surabaya, dsb). Saya bukan orang yang cenderung membela habis-habisan BBM naik ataupun turun.

Pada awalnya saya ingin mempercayakan segalanya kepada para petinggi negara, Pemerintah dan DPR. Namun sidang paripurna yang dilaksanakan DPR nampak sebuah ajang dagelan politik. Kisruh, diskusi yang tidak efektif pun terjadi. Bukan masalah substansial  yang dibahas melainkan kepentingan politik dan pembentukan citra partai di mata masyarakat. Konflik antara anggota Setgab terutama PKS, pembentukan citra oposisi dsb menghiasi layar kaca.

gambar. cuplikan kondisi sidang paripurna

Dapat didengar bahwa setiap partai berbicara atas nama rakyat namun pernyataan yang dilontarkan tak ayalnya hanyalah pencitraan politik saja. Disaat yang sama kondisi kontras terjadi, di luar gedung DPR demonstran dan polisi saling baku, hantam, Jakarta, Makassar bergejolak mengiringi sidang paripurna. Kondisi yang menurut saya sangat miris, DPR didalam ruang sidang masih terus berkoar-koar mengatas namakan rakyat. Semua berkata dengan manisnya dan tetap ingin menunjukkan citra seolah2 memilih keputusan yang populis.

Gambar. Ricuh demo BBM

DPR=Dewan Perwakilan Rakyat? 

Dulu salah seorang dosen saya pernah bertanya,”DPR itu perwakilan rakyat atau perwakilan/representasi partai?”. Gumamku dulu “Hmm.. pastinya perwakilan rakyatlah, kan dipilih oleh rakyat”. Namun berbagai drama politik yang terjadi, setgab, oposisi, pencitraan membuatku meyakini bahwa Dewan Perwakilan Rakyat adalah perwakilan partai yang dipilih oleh rakyat. Yang diwakili partai bukan konstituennya.

Menarik mengamati statement dari Bapak Mahfud M.D. bahwa sesungguhnya beliau meyakini masih banyak putra putri unggul bangsa yang selayaknya duduk di parlemen Indonesia. Banyak mahasiswa yang kritis, berkarakter dan berjuang sesuai hati nurani yang pantas melanjutkan perjuangan para petinggi2 negeri. Namun sistemlah yang membatasi kemunculan-kemunculan tokoh-tokoh yang memang memiliki kapabilitas memimpin. Kepopuleran mengalahkan kapabilitas. Artis, komedian bisa menjadi anggota dewan dengan bermodal popularitas dan duit tentunya. Ya dialam demokrasi alias pemilihan langsung ini popularitas dan uang memiliki tempat tersendiri. Coba tanyakan berapa uang yang harus dikeluarkan untuk menjadi anggota dewan? untuk kebutuhan kampanye, uang partai dsb. Adalah hal yang lumrah anggota dewan yang terpilih memikirkan “balik modal” bahkan mencari keuntungan dimasa depan mengingat uang yang telah dikeluarkan. Dan lebih ribetnya lagi yang namanya untuk mencapai posisi PRESIDEN RI tentunya harus melalui kendaraan politik alias partai (gatau deh kalo yang independen udah boleh). Sistem-sistem yang ada membatasi ruang gerak kemunculan generasi yang memiliki kapabilitas karena faktor kapabilitas mungkin belum menjadi faktor penentu utama. Menarik menyimak pernyataan Anis Baswedan bahwa Kapabilitas tanpa posisi (kewenangan) menjadi tidak berarti, dan posisi tanpa kapabilitas adalah bencana.

Majulan Indonesia…

One thought on “Politik yang Menggelitik

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s