“Pak, Mohon Ikuti UN lagi”

TEMPO.CO, Jakarta – Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Djoko Santoso mengatakan bahwa perguruan tinggi negeri sudah setuju menggunakan hasil Ujian Nasional (UN) sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri. »Perguruan tinggi sudah setuju,” kata Djoko ketika ditemui di kantornya, 4 Juni 2012 siang.

Djoko mengatakan kebijakan tersebut mulai diberlakukan tahun depan. Dengan demikian, nantinya perguruan tinggi negeri tak perlu lagi mengadakan tes atau ujian lain untuk menyaring calon mahasiwa. Cukup berpatokan pada nilai UN siswa. »Agar irit, jadi tak perlu ada tes lain,” kata dia.

Djoko mengatakan sistem penggunaan nilai UN sebagai syarat masuk perguruan tinggi negeri sebenarnya sudah diterapkan tahun ini. »Calon mahasiswa yang masuk melalui jalur undangan kan dilihat berdasarkan nilai UN,” katanya.

Adapun daftar calon mahasiswa yang masuk melalui jalur undangan itu ditentukan langsung oleh setiap perguruan tinggi negeri. Setiap perguruan tinggi negeri ditetapkan untuk mencari 60 persen calon mahasiswa dari jalur undangan.

Adapun untuk jalur undangan melalui program Beasiswa Pendidikan Tinggi bagi Calon Mahasiswa Berprestasi (Bidik Misi) gelombang pertama tahun ini hanya 15.300 yang lolos seleksi. Akibatnya, dari kuota beasiswa untuk 42 ribu mahasiswa, hanya sekitar 36 persen yang terserap dan siap dimanfaatkan calon mahasiswa.

———————————————————————————-

Lagi, saya menulis tentang UN sebagai syarat masuk perguruan tinggi. Hampir sama dengan tulisan saya sebelumnya, namun inilah ungkapan hati saya. Sekilas berita yang saya baca dari media online. Jujur saya orang yang tidak setuju kalau UN saja sebagai syarat masuk perguruan tinggi. Alasannya :

– UN penuh kecurangan, jual beli kunci jawaban dan lain sebagainya. Diknas saya yakin memiliki data pengaduan kecurangan UN ditiap posko pengaduan yang didirikan. Tetapi saya yakin bahwa data yang didapat sangatlah berbeda dengan empiris lapangan yang terjadi. Saya pernah mengikuti UN sekitar 5 tahun lalu. Berdasarkan sampel dilingkungan saya berada banyak potensi kecurangan maupun kecurangan yang terjadi. Saya berada di salah satu SMA terfavorit di Jawa Timur. Dan berdasarkan hasil obrolan dengan teman SMA yang berbeda pula sama, kecurangan sangat rentan terjadi. Kecurangan bisa berbentuk : jual beli soal jawaban UN, jawaban2 UN beredar, contek menyontek baik yang terorganisir maupun yang tidak terorganisir. Saya yakin kalau semua buka2an saja kecurangan yang terjadi selama UN dipelosok negeri pastilah besar. Jujur saya skeptis terhadap data kecurangan yang hanya tertulis di atas kertas.

Wajar, kecurangan bisa dipicu bukan hanya dari diri peserta UN namun juga dorongan dari pihak sekolah maupun daerah. Hal ini mengingat bahwa sekolah maupun daerah memiliki ‘keinginan’ untuk menjaga reputasinya di mata umum. Miris bahkan saya menonton TV bahwa guru membiarkan anak2 SD menyontek pas UN. Alasannya simpel, “ya maklum masih anak2”. Kalau dari anak2 dididik seperti itu jangan kaget kalau besarnya banyak koruptor yang bermunculan.

– Kualitas Pendidikan Indonesia telah ditukar atas nama “kesimpelan”. Kalau alasan kuat UN dipakai sebagai syarat masuk Perguruan tinggi adalah supaya ga ribet berarti kualitas pendidikan di Indonesia telah ditukar dengan yang namanya “biar ga ribet”. Maaf saya tidak punya data kuantitatif tetapi lagi-lagi saya meyakini (berdasarkan sampel lingkungan saya berada) bahwa SNMPTN jauh lebih bersih daripada UN. Saya belum pernah dengar ada jual beli jawaban SNMPTN atau orang bisa nyontek sesuka hati pas SNMPTN. Simpel, karena penyelenggara SNMPTN adalah pihak netral alias perguruan tinggi yang tidak punya motif untuk mendukung kecurangan. Ya palingan kalo mau curang SNMPTN ya pake joki karena emang susah mau curang gmn lagi. Joki saya rasa hanya masalah minor yang dapat diberangus dengan sistem pengamanan yang baik.

– UN beda fungsi dengan SNMPTN. Seperti yang saya tulis di artikel saya sebelumnya bahwa UN dikatakan sebagai fungsi evaluasi atau kelayakan apakah pantas nih ni siswa lulus. Hal ini berdampak soal2 yang diberikan terkesan mudah. Wajar karena UN tools hanya untuk mengukur batas minimum kepantasan. Sedangkan SNMPTN digunakan untuk seleksi sehingga tingkat kesulitannya lebih tinggi. Saya lebih meyakini jenis maupun tingkat kesulitan di SNMPTN lebih bisa digunakan sebagai alat seleksi untuk masuk perguruan tinggi. Padahal setiap tool memiliki kriteria tersendiri. Hal yang terlalu dipaksakan jika UN dipakai sebagai alat evaluasi dan juga seleksi masuk PT sekaligus. Terlalu dipaksakan dan berpotensi cenderung mengurangi kualitas.

– Mengurangi kualitas Perguruan Tinggi. Ini salah satu yang saya takutkan salah satunya, input dari perguruan tinggi yang masuk patut dipertanyakan karena tool yang digunakan pula kurang tepat. Ya kalau dilihat sisi baiknya bisa jadi kualitas SDM di tiap universitas lebih bakal merata ga hanya di PTN favorit seperti ITB, UI, UGM dsb.

– Mencederai keadilan bagi siswa. Ini yang paling saya tidak suka nantinya jika terjadi. Kasihan siswa yang bener2 jujur ataupun sebenarnya qualified bisa dikalahkan dengan yang namanya kecurangan atau dengan tool yang salah. Bener2 sedih pasti kalo udah cita2 masuk ITB dari lahir misalnya namun akhirnya kalah sama yang berlaku curang T-T

Coba diadakan survey lah kepada seluruh mantan peserta UN, siapa saja yang pernah melakukan kecurangan apapun. Saya yakin data yang didapatkan bisa mencengangkan!
Data yang didapat hanya dari atas kertas, hanya dari posko pengaduan saya yakini sangat berbeda dengan yang terjadi di lapangan. Oleh karena itu bapak Ibu yang ada di pemerintahan, terutama Bapak penguasa DIkti, cobalah mengikuti UN lagi diberbagai daerah dan sekolah.

One thought on ““Pak, Mohon Ikuti UN lagi”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s