Pengetahuan Keprofesian dan Cita-cita

Cita-cita dibentuk tak terlepas dari pengalaman dan pengetahuan. Kalau kita mengajukan pertanyaan ke anak-anak SD/SMP mengenai cita-cita mereka pastilah jawabannya tidak jauh dari : dokter, polisi, suster, astronot, pilot, guru, pemain bola, pemusik. Anything else? (bahkan teman saya ketika SD dulu punya cita-cita jadi supir truk karena keren bawa kendaraan super gede kemana-mana). Kalau kita ajukan pertanyaan yang sama ke anak kuliahan apa jawabannya? Tentunya jauh lebih beragam dan tajam : pingin jadi programmer lah, pingin jadi petroleum engineer, ngadain riset, jadi dosen, jadi akuntan, dokter gigi, kedubes, marketer, enterprener dsb. Cita-cita bisa berubah. Cita-cita ketika SD belum tentu sama dengan cita-cita kita sekarang ketika kuliah. Contohnya salah satu teman saya dulu pingin jadi supir truk eh malah sekarang jadi dokter. Well, apa yang membuat cita-cita bisa merubah? Cita-cita bergerak seiring bertambahnya pengalaman dan pengetahuan. Kita mungkin ga bercita-cita jadi programmer kalau ga tahu programmer itu apa, kerjaannya ngapain aja, kita mungkin juga ga mungkin bercita-cita jadi researcher alias peneliti kalau ga pernah denger peneliti itu ngapain aja. Point nya adalah salah satu factor yang menentukan cita-cita kita adalah pengetahuan yang kita miliki tentang keprofesian.

unduhan

Anak SD/TK kalau ditanya cita-cita mengapa jawabannya itu-itu saja karena kurang pengetahuan akan keprofesian. Yang mereka ketahui adalah yang langsung berhubungan langsung dengan mereka. Guru mereka lihat disekolah, polisi mereka lihat di jalan dan berita, dokter mereka berinteraksi ketika sakit. Saya bayangkan tentu keren jika pengetahuan akan keprofesian sudah ditanamkan sejak dini melalui pendidikan formal. Misalnya menghadirkan guest teacher setiap minggunya dari berbagai profesi yang berbeda-beda. So, sejak dini kita sudah diarahkan untuk berimajinasi dan mengeksplorasi diri. Ketika kita mengetahui berbagai keprofesian yang ada, cita-cita mulai terbayang dan jalan pun dapat ditentukan. Jangan sampai kita memilih penjurusan IPA/IPS ketika kuliah hanya berdasarkan trend dan mayoritas teman-teman.

Fenomena kebutaan keprofesian menyebabkan anak-anak SMA bingung akan melanjutkan kuliah kemana dan jurusan apa. Bingungkan kalau disuruh milih jalan mana yang kudu ditempuh sedangkan tujuannya saja masih blur. Mungkin mayoritas anak IPA SMA gatau apa itu jurusan metalurgi, geodesi, planologi. Mungkin mereka gatau juga bahwa lulusan teknik industri (industrial engineer) peluangnya bakal jadi apa, bakal ngerjain apa aplikasinya didunia nyata. Sungguh ironis kalo emang itu terjadi hampir di mayoritas pelajar Indonesia. Jujur saya dulu gitu. Passing grade membutakan sebelah mata saya. Saya dulu suka akan fisika dan matematika. Karena ketika tahun 2007 passing grade paling tinggi untuk teknik adalah Elektro dan Informatika ITB maka saya memilih jurusan tersebut. Ibaratnya sayang kalau mampu mengapa tidak paling tinggi sekalian. Padahal dalam hati kecil saya ada niat untuk ke teknik mesin ataupun teknik fisika. (Namun seiring berjalannya waktu saya kembali ke track yang ‘benar’. Pekerjaan saya sekarang merupakan kolaborasi teknik mesin, teknik fisika dan elektro).

Melalui tulisan ini harapannya kita semua dapat berbagi mengenai profesi kita ke orang lain. Jujur saya sendiri penasaran dan pingin tahu mengenai kehidupan profesi misal non teknik ngapain aja, dokter ngapain aja, polisi itu sebenarnya gimana kehidupannya sampai Presiden. Saya sendiri sekarang adalah instrument and electrical engineer (project engineer) di sebuah consumer goods industry. Saya bekerja based on project. Yah ibaratnya saya berada di tim kecil EPC (Engineering Procurement and Construction) gitu tapi bertanggungjawab atas instrument dan listrik. Nah projectnya meliputi apa saja? Banyak. Misal plant improvement, expansion, automation dan masih banyak lagi. Menghandle project dimulai dari study feasibility, budget arrangement, desain, procurement (pengadaan material dan manpower), instalasi (ini tahapan eksekusi) dan commissioning alias trial sampai project dinyatakan oke oleh user. Saya bekerja di dalam tim karena sebuah project membutuhkan berbagai disiplin pengetahuan. Misal ada project untuk menambah mixer untuk membuat sebuah makanan maka tim mekanik bertugas untuk mendesain pipa, tangki, motor berdasarkan spec dari process engineer. Lalu tim instrument dan elektrik (saya dan tim) bertugas menghandle untuk desain dan instalasinya. Misal output dari desain yaitu P&ID, Instrument list, Load list, Single Line Diagram, I/O list Controller dsb. Dari desain kan sudah ada tuh kebutuhan materialnya apa aja. Di tahap pengadaan ini kita beli barang2nya. Kalau jumlahnya besar ya kita adakan tender. Begitu juga untuk manpower yang dibutuhkan untuk instalasi. Semua harus sinkron berdasarkan timeline yang telah dibuat, desain yang disetujui dan juga budget yang telah dianggarkan. Setelah semua sudah siap bisa dieksekusi pekerjaannya sampai beres. Semua pekerjaan harus sinkron antara tim listrik dan instrument, mekanik, sipil, process. Selain belajar mengenai teknik yang kita dalami sendiri, kita juga bisa belajar mengenai proses dan juga bagaimana manufacturing/suppy chain bekerja.

Adakah yang mau bercerita mengenai profesinya?🙂

2 thoughts on “Pengetahuan Keprofesian dan Cita-cita

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s